Our Wedding

Kali ini, Mami El mau cerita soal weddingnya Mami El dan Papi El.

Kita menikah ituuu, di 9 November 2015. Waktu itu, Edho masih seorang youtuber yang masih struggle, karena youtube belum sepopuler sekarang. Dan kita berdua, bukan dari keluarga yang mampu support kita di pernikahan kita secara keuangan.

Papaku, punya penyakit jantung sejak aku SMA, jadi udah ga kerja karena cukup parah jantungnya.

Sementara Edho, mungkin udah banyak yang tahu kalau mamanya Edho adalah single mother yang harus kerja keras membiayain hidup anak-anaknya.

Nah, karena itu, mau ga mau kita juga ga bisa punya pernikahan mewah, walaupun sebenernya pengen juga. Kita memutuskan untuk menikah ga pake resepsi, cmn pemberkatan di gereja aja, dengan budget paling mahal Rp. 50.000.000;

Lima puluh juta itu pun, dikumpulin dengan susah payah. Inget banget waktu itu Edho tiba-tiba dapat deal sebuah brand smartphone, dan Edho harus syuting dari pagi, sampe pagi lagi. Yap, syutingnya mulai jam 8 pagi, selesainya jam 4 pagi juga. Dan karena Edho ada di setiap adegan, itu Edho harus syuting nonstop!

Mami inget banget, ada 1 adegan Edho harus pake baju scuba diving dan dibasahin supaya keliatan abis nyelam, eh ternyata ga perlu dibasahin lagi karena udah basah kuyup keringet Edho nya. ( Yes, buat yang ngira syuting itu gampang, aduh beneran deh syuting itu berat banget. Udah panas karena lampunya banyak dan terang2 banget, untuk 1 adegan 10 menit, itu bisa diulang2 lebih dari 5x karena PH pengen punya stock beberapa angle dan beberapa situasi )

Dan itu selama 3 hari, Edho udah kayak ngucap mantra sehari-harinya, “Demi kawin, demi kawin”

Pokoknya kalau diingat-ingat, wedding kita itu penuh keringat dan air mata hahaha. Belum dari orangtua, yang pengen kita menikahnya proper, ada resepsi, dll, tapi ya gmana kita belum mampu ^^

Terus juga berantem-berantem mendekati merit semakin sering, ada aja hal-hal kecil yang diberantemin. Ketemu mantan, ketemu first love pas SMA, wah pokoknya godaannya banyaaak sekali.

Untungnya, waktu itu Mami dan Papi El disupport oleh gereja kita, yang bener bener keras dalam ngurus pernikahan umatnya. Kita harus ikut kelas-kelasnya, dan di kelas itu kita ga cuman belajar teori, tapi kasus per kasus. Kita juga diwawancara, dites pengetahuannya soal pasangan. Kita bersyukur banget dengan adanya support dari gereja ini, dan materi-materi yang mereka ajarkan sebenernya Mami rasa applicable di semua agama kok. Nanti mungkin Mami share juga di web ini, soal bahasa kasih dan lain2nya ya.

Setelah 50 juta terkumpul, kita bisa sewa gedung, waktu itu kita menikahnya di Froggy BSD, itu biaya sewanya RP. 10.500.000; buat beberapa jam.

Baju merit, Mami jahit sama temennya kakak, sekitar 6 juta an. Foto pre-wed kita ga punya, dan pas merit difotoin sama temen core kita yang fotografer handal, Andy namanya. Edho pake jas endorse dari temen core kita juga, Tjong Tailor.

Yang paling mahal itu makanan, walaupun kita makanannya cuman kue2 karena temanya Tea Party, jadi cupcakes, macaron, sama lasagna gitu makanannya.

Dekorasi bunga di venue, itu kakakku sumbang, karena kasian katanya kalau ga ada dekorasinya.

Undangan, kita pake undangan online, dan supaya saudara-saudara ga tersinggung karena cuman diundang online, Mami El SMS-in satu-satu untuk menjelaskan bukannya kita ga sopan, tapi kita bener-bener terbatas budgetnya ^^

Teppai kita ga ada, soalnya kita ga pake EO, dan bener2 ngurus berdua sendiri, jadinya ga mampu buat ngurusinnya hahaha.

Dengan semua keterbatasan itu, kita berdua pun resmi menikah. Ditanya sedih ga meritnya sederhana?

Sebenernya bukan sedih ya, kepengen merit heboh si pengen. Apalagi kalau pergi kondangan, liat venuenya cakep2, dekornya bagus2, foto2nya banyak dan bagus, siapa yang ga kepengen ^^ Apalagi tahun itu banyak juga temen Edho yang menikah, semua keren-keren banget.

Tapi Mami belajar bersyukur, dan menerima semua kelebihan dan kekurangan kami sebagai pasangan. Dan sebenarnya, intinya sama aja kok.

Pernikahan segede dan semewah apapun, tetap pasti ada hal-hal yang membuat ga puas. Karena sifat manusia yang begitu, ga pernah puas, dan ga ada hal yang sempurna.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
Skip to toolbar